hati yang terbelah dua
Seminggu belakangan ini, pening betul mendengarkan orang-orang membicarakan poligami. Serasa gak ada habisnya. Banyak banget yang histeris menolak. Tidak sedikit juga yang setuju. Dan sebagian lagi "abstain" karena dilema agama.
Seminggu belakangan ini juga gue selalu pulang malam. Setiap kali sampai di rumah, pemandangannya adalah istri yang tertidur kecapekan nunggu. Orang terakhir yang gue baca sms-nya "pulang jam berapa paqz?" adalah orang yang sama yang selalu membuka pagi dengan "diminum kopinya paqz".
Beberapa tahun usia perkawinan, ada saja kejutan bahwa kita dan pasangan semakin tidak sempurna. Selalu ada dorongan yang semakin kuat untuk mencari kata "the one" pada orang lain. Orang yang mungkin memberi lebih baik atau padanya kita bisa lebih baik.
Ironis, memang.
Tanpa bermaksud melarikan diri dari keberpihakan pada polemik poligami, yang gue paling sesalkan adalah kenapa ide itu lahir? Tidak setuju dan tidak menikah lagi jauh lebih gampang dari konsekuensinya yaitu komitmen. Dan kata komitmen, menyeret kita lebih jauh lagi.
Kita yang kepingin disebut komit, harus rela meniadakan pilihan. Kita harus rela bosan. Kita harus bersusah payah memotivasi diri sendiri sementara imajinasi sering menggoda hal yang sebaliknya.
Wiken ini, sama aja seperti sebelumnya, gue menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan, nonton film, makan di luar, dengan orang yang sama, dengan obrolan yang sama. Istimewanya? gak ada. Kalaupun ada yang istimewa, itu karena gue menemukan detail baru bahwa istri gue ternyata tahu banyak soal film-film baru yang akan dirilis tahun depan.
Ya, gue sadar bahwa kita seringkali gak sabar. Di saat bosan, kita sering menginginkan perubahan total. Padahal, menemukan detail-detail baru juga sebuah perubahan. Kalaupun kita mendapatkan sesuatu yang baru, nantinya akan bosan lagi.
Malam tadi, gue peluk istri gue sampai tertidur. Katanya bau ketek gue khas (halah...maksudnya bau kali). Sebelumnya kita membicarakan soal poligami dari dua sisi. Gua ngaku, beruntung banget bahwa poligami bukan wajib hukumnya, soalnya gue bukan orang yang taat waktu. Dia bersyukur karena suaminya nggak ganteng dan gak kaya sehingga kemungkinannya jadi sangat kecil (kurang ajar!).
Sebelum mata gue bener2 merem, di film Wyatt Earp yang kita tonton, adegannya bukan ciuman tapi khayalan, "gua bayangin saat usia 60 nanti, saat gua bangun tidur orang yang ada di samping gue adalah elo...". Selanjutnya gelap.
Paginya, "diminum kopinya paqz..."


